Jakarta – Setiap malam, langit menyuguhkan pertunjukan abadi berupa titik-titik cahaya yang tersusun membentuk pola. Pola-pola inilah yang kita kenal sebagai rasi bintang atau konstelasi.
Tapi bagaimana kumpulan bintang itu mendapatkan namanya? Jawabannya menelusuri ribuan tahun sejarah, kepercayaan, dan mitologi dari berbagai peradaban kuno.
Rasi bintang adalah sekumpulan bintang yang tampak membentuk pola tertentu, yang hanya bisa dibayangkan manusia dengan menghubungkan titik-titiknya. Penamaannya sudah dilakukan sejak zaman kuno, khususnya oleh bangsa Timur Tengah, Yunani, dan Romawi. Sebagian besar nama yang dikenal saat ini berasal dari tokoh mitologi atau bentuk binatang yang dianggap mewakili susunan bintang di langit.
Salah satu contoh paling populer adalah Orion. Dalam mitologi Yunani, Orion adalah pemburu legendaris. Gugusan bintang yang menyerupai sosok dengan pedang di pinggangnya akhirnya dinamai dengan nama sang pemburu. Orion menjadi salah satu dari sedikit rasi bintang yang dapat terlihat di kedua belahan bumi.
Menariknya, budaya lain seperti masyarakat adat di Amerika, Asia, dan Afrika juga memiliki interpretasi tersendiri terhadap kumpulan bintang yang sama. Mereka menciptakan kisah dan simbolisme yang berbeda, yang sering kali berhubungan dengan musim, waktu tanam, panen, dan bahkan upacara keagamaan.
Kini, ada 88 rasi yang secara resmi diakui oleh Persatuan Astronomi Internasional (IAU). Sebanyak 48 di antaranya merupakan rasi kuno yang bisa diamati dengan mata telanjang, sedangkan 38 lainnya diklasifikasikan sebagai rasi modern yang ditemukan pada abad ke-16 hingga ke-18 dengan bantuan teleskop. Salah satu rasi bintang kuno, Argo, bahkan dipecah menjadi tiga bagian sehingga jumlah rasi kuno mencapai 50.
Pada tahun 1930, IAU menetapkan daftar resmi beserta batas-batas tiap rasi bintang, membagi langit menjadi 88 wilayah berbeda di bola langit imajiner yang mengelilingi Bumi.
Keberadaan rasi bintang tidak hanya menandai pengetahuan astronomi awal umat manusia, tetapi juga menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dari mitologi hingga pemetaan langit modern, konstelasi tetap menjadi simbol kekaguman umat manusia terhadap semesta.

