Nineveh – Penemuan arkeologis mengejutkan terjadi di kota kuno Nineveh, Irak. Tim peneliti dari Universitas Heidelberg, Jerman, berhasil menemukan pecahan relief batu besar yang menggambarkan Raja Ashurbanipal bersama dewa-dewa utama Mesopotamia kuno. Relief Raja Asyur ini ditemukan tersembunyi di bawah reruntuhan istana kerajaan, dan dinilai sebagai salah satu temuan paling langka dari masa kejayaan Kekaisaran Asyur.
Relief tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-7 SM dan menggambarkan Ashurbanipal—raja terakhir Kekaisaran Asyur—diapit oleh dewa Ashur dan Ishtar. Penambahan simbol dewa ikan serta manusia kalajengking membuat relief ini kian unik, mengingat kebanyakan karya seni istana pada masa itu jarang menampilkan dewa-dewa secara langsung.
“Kami belum tahu pasti mengapa relief ini dikubur, ini sungguh membingungkan,” ujar Aaron Schmitt, arkeolog dari Universitas Heidelberg yang memimpin tim penggalian, Kamis (15/5/2025).
Berukuran sekitar 5,5 x 3 meter dengan berat mencapai 13 ton, relief ini kemungkinan dibuat dari gipsum dan awalnya menghiasi ceruk dinding menghadap ke pintu utama ruang singgasana. Namun pada masa Helenistik, sekitar abad ke-2 atau ke-3 SM, relief ini diduga dipindahkan dan dikubur secara misterius di area yang tak biasa—sebuah lubang di balik pintu masuk.
“Kami belum punya cukup data tentang aktivitas permukiman Nineveh pada masa Helenistik, ini masih menjadi teka-teki besar,” tambah Schmitt.
Relief ini terlewatkan oleh para arkeolog Inggris yang menggali Nineveh pada abad ke-19. Hal itu diyakini karena posisinya yang tertimbun dalam dan jauh dari area ekskavasi utama. Schmitt pun mengungkap kemungkinan adanya motivasi politis atau keagamaan yang mendorong penguburan relief ini, meskipun hingga kini masih bersifat spekulatif.
Kini, tim arkeolog tengah melakukan analisis lanjutan terhadap relief tersebut. Mereka berencana merekonstruksi dan mengembalikannya ke posisi semula agar dapat dinikmati publik. Proses ini diharapkan memberi pemahaman lebih mendalam mengenai fungsi dan makna artistik dari artefak monumental tersebut.
“Kami berharap, penggalian selanjutnya bisa mengungkap lebih banyak konteks dari relief ini,” pungkas Schmitt.

