Jakarta – Bulan selama ini dikenal sebagai objek langit malam yang bercahaya indah, terutama saat purnama. Namun ternyata, cahaya terang yang memancar dari Bulan bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan pantulan sinar Matahari. Fenomena ini sering disalahpahami sebagai cahaya yang dihasilkan Bulan secara mandiri.
Dikutip dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Bulan tidak menghasilkan cahaya sendiri. Yang tampak terang dari permukaan Bulan di malam hari merupakan cahaya Matahari yang dipantulkan ke Bumi. Warna terang yang terlihat dari Bumi sebenarnya adalah hasil pantulan dari permukaan Bulan yang sebagian besar berwarna abu-abu gelap.
“Dari Bumi, bagian Bulan yang disinari Matahari terlihat putih cerah, meski permukaannya aslinya gelap,” tulis laman NASA.
Bulan hanya mampu memantulkan sekitar 10% sinar Matahari yang mengenainya, dan rasio pantulan ini dikenal sebagai albedo. Sebagai perbandingan, Bumi memiliki albedo sekitar 30%, sementara Venus jauh lebih tinggi karena atmosfernya yang padat dan reflektif.
Meski begitu, Bulan tetap terlihat lebih terang daripada Venus dari Bumi karena jaraknya yang jauh lebih dekat. Jarak tersebut memungkinkan cahaya pantulan Bulan menghasilkan bayangan di permukaan Bumi saat purnama.
Kecerahan Bulan juga berubah seiring posisinya mengelilingi Bumi. Dalam satu siklus 29,5 hari, posisi Bulan terhadap Matahari dan Bumi menyebabkan terjadinya fase-fase Bulan seperti sabit, separuh, hingga purnama.
Saat fase bulan purnama, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, memungkinkan seluruh sisi Bulan yang menghadap Bumi terpapar cahaya Matahari sepenuhnya. Sebaliknya, saat bulan baru, Bulan berada di antara Matahari dan Bumi sehingga sisi yang terang tidak terlihat dari permukaan Bumi.
Fakta ini menunjukkan betapa pentingnya interaksi posisi dan cahaya dalam menciptakan tampilan visual langit malam yang kita kenal. Satu hal yang pasti, Bulan hanya bersinar karena menjadi cermin kosmik bagi cahaya Matahari.

