Boyolali – Upaya pemerintah memperluas cakupan vaksinasi HPV di sekolah dasar menemui tantangan besar di lapangan. Salah satunya terungkap di SDN 1 Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, di mana program imunisasi yang menyasar siswi kelas 4 hingga 6 sejak 2024 masih dibayangi keterbatasan edukasi yang menyeluruh.
Vaksinasi HPV, yang telah menjadi bagian dari program imunisasi nasional sejak 2023, ditujukan untuk mencegah kanker serviks—penyakit mematikan yang disebabkan oleh infeksi virus Human Papillomavirus (HPV). Meski cakupan vaksinasi di wilayah Puskesmas Simo telah menyentuh lebih dari 14 ribu anak, pemahaman manfaat vaksin masih minim, terutama di kalangan siswa dan orang tua.
Menurut Kasih, wali kelas 5 SDN 1 Simo, sosialisasi yang dilakukan hanya berupa penyampaian teknis dari puskesmas yang dilanjutkan guru. “Bahasanya dibuat sederhana agar mudah dipahami anak-anak, tapi jadi kurang mendalam,” ujarnya pada Kamis (5/6/2025).
Salah satu siswi kelas 5 berinisial D bahkan mengaku tidak mengetahui alasan utama di balik pemberian vaksin tersebut. Ia hanya diminta sarapan sebelum imunisasi, tanpa informasi jelas mengenai tujuan vaksinasi. Setelah disuntik, D mengeluh mengalami demam ringan dan nyeri pada lengan.
Siswi lain berinisial S hanya mengetahui bahwa vaksin tersebut “untuk mencegah kanker rahim,” tanpa penjelasan medis yang komprehensif. Bahkan, satu siswi tidak diikutsertakan karena orang tuanya sejak bayi menolak seluruh jenis imunisasi.
Petugas dari Puskesmas Simo menyebut kendala terbesar dalam pelaksanaan vaksinasi ini adalah terbatasnya distribusi vaksin dari dinas kesehatan. Meski demikian, tidak ditemukan kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI). Sejumlah penolakan dari orang tua juga dicatat, beberapa tanpa alasan jelas.
Prima Yosephine, Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes, menyatakan bahwa pemberian vaksin HPV kini menyasar siswi kelas 5 dan 6 SD secara nasional. “Vaksinasi lanjutan atau vaksin kejar untuk usia 15 tahun direncanakan berlangsung Agustus 2025,” ungkapnya.
Sementara itu, dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Indra Adi Susianto, menegaskan pentingnya vaksinasi sebelum remaja aktif secara seksual. “HPV tipe 16 dan 18 menyebabkan 70 persen kasus kanker serviks. Vaksinasi sejak dini dan pemeriksaan pap smear sangat penting,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski telah divaksin, skrining berkala tetap dibutuhkan karena infeksi HPV sering tak menunjukkan gejala hingga berkembang menjadi kanker.
Dengan keberhasilan vaksinasi bergantung pada edukasi dan distribusi vaksin yang merata, peran sekolah dan orang tua menjadi sangat krusial. Kolaborasi berbagai pihak dinilai penting untuk melindungi generasi muda dari ancaman kanker serviks yang dapat dicegah sejak dini.

