Jakarta – Seperti badai yang datang tiba-tiba, varian baru COVID-19 NB.1.8.1—dikenal sebagai ‘Nimbus’—muncul dan menyebar cepat di sejumlah negara Asia, termasuk Thailand, Singapura, dan China. Nama ‘Nimbus’, yang berasal dari istilah meteorologi untuk awan gelap pembawa hujan, kini menjadi simbol dari gejala infeksi yang menyakitkan dan menimbulkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.
Menurut laporan ahli epidemiologi China, Dr Zhong Nanshan, gejala utama yang dikeluhkan oleh pasien varian ini adalah radang tenggorokan ekstrem. “Pasien menggambarkan rasa sakit seperti tersayat pisau cukur atau pecahan kaca,” ujar Dr Nanshan, mengutip laporan klinis dari beberapa rumah sakit.
Selain itu, gejala umum lain yang muncul antara lain batuk kering, demam, nyeri otot, kelelahan berat, dan hidung tersumbat. Meski demikian, Dr Nanshan menyebut bahwa secara umum gelombang infeksi saat ini tidak jauh berbeda dari sebelumnya, namun radang tenggorokan kali ini jauh lebih menonjol dan batuk lebih intens.
Lonjakan kasus yang disebabkan varian Nimbus telah terekam di sejumlah rumah sakit di China, dengan peningkatan jumlah pasien COVID-19 di ruang gawat darurat dari 7,5% menjadi 16,2% dalam periode Maret hingga Mei. WHO menyebut bahwa varian ini memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi, meski hingga kini belum ada bukti bahwa tingkat keparahan atau risiko kematiannya lebih tinggi.
Melalui platform media sosial Weibo, banyak warga China membagikan pengalaman pribadi mereka terinfeksi varian ini.
“Radang tenggorokan akibat silet pasca COVID sangat parah. Bengkak, nyeri, dan saya hampir tidak bisa bicara. Adakah pengobatan yang cepat?” tulis seorang pengguna.
Lainnya menuturkan bahwa koleganya mengalami batuk parah saat makan siang hingga terlihat seperti tersedak, yang ternyata merupakan efek sisa dari infeksi COVID-19. Pengakuan-pengakuan semacam ini semakin menguatkan bahwa varian Nimbus membawa tantangan baru dalam penanganan gejala.
Beberapa pasien juga melaporkan kelelahan ekstrem, bahkan setelah gejala utama seperti demam dan batuk mereda. Meski belum ada terapi spesifik untuk varian ini, para dokter menganjurkan perawatan simtomatik, istirahat total, dan isolasi ketat hingga pulih sepenuhnya.
Dengan merebaknya varian ini, para ahli kesehatan menyerukan peningkatan kewaspadaan di masyarakat serta percepatan vaksinasi booster untuk memperkuat imunitas, terutama bagi kelompok rentan. Pengawasan ketat terhadap mobilitas antarnegara dan kesiapan fasilitas kesehatan kembali menjadi sorotan.
Varian Nimbus menjadi pengingat bahwa pandemi belum sepenuhnya usai dan mutasi virus tetap menjadi tantangan nyata bagi sistem kesehatan global.

