Close Menu
Kenai.idKenai.id
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    Senin 16 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kenai.idKenai.id
    • Berita
    • Nusantara
    • Lifestyle
    • Artikel
    • Promosi
    Kenai.idKenai.id
    Beranda » Faktor Genetik hingga Mental Bikin Orang Tahan Pedas
    Kesehatan

    Faktor Genetik hingga Mental Bikin Orang Tahan Pedas

    By Richard28 Juni 2025Updated:28 Juni 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Ilustrasi seseorang yang kuat makan makanan pedas (.inet)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Jakarta – Sensasi terbakar di lidah yang diakibatkan makanan pedas ternyata tidak dirasakan sama oleh semua orang. Sebagian orang tampak tahan banting ketika menyantap cabai, sementara lainnya justru langsung berkeringat hanya dari satu suapan. Fenomena ini bukan sekadar soal kebiasaan atau keberanian, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor genetik dan neurologis, menurut penjelasan pakar dari IPB University.

    Dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, Dosen Departemen Gizi Masyarakat IPB University, mengungkapkan bahwa zat capsaicin dalam cabai bekerja dengan menstimulasi reseptor saraf TRPV1 yang mengirimkan sinyal rasa sakit ke otak. “Setiap individu memiliki tingkat toleransi reseptor yang berbeda,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang dikutip Sabtu (28/6/2025).

    Karina menjelaskan bahwa orang yang memiliki lebih banyak reseptor pendeteksi capsaicin cenderung merasakan sensasi terbakar lebih kuat, sehingga sulit menoleransi makanan pedas. Sebaliknya, mereka yang memiliki lebih sedikit reseptor akan merasakan sensasinya yang lebih ringan.

    “Bahkan, ada orang yang lahir tanpa reseptor ini, sehingga tidak merasakan pedas,” tambah Karina, menekankan bahwa faktor fisiologis ini sangat menentukan seberapa kuat seseorang dapat menikmati makanan dengan cabai.

    Selain faktor biologis, toleransi terhadap pedas juga bisa dipengaruhi oleh pengalaman sejak kecil. Paparan awal terhadap makanan tersebut, terutama di wilayah dengan kebiasaan makan bercita rasa kuat seperti India dan Meksiko, dapat meningkatkan toleransi ketika dewasa. Di daerah-daerah ini, cabai menjadi bagian dari budaya dan konsumsi sehari-hari.

    Aspek psikologis juga turut berperan. Persepsi atau keyakinan bahwa makanan tersebut sangat pedas bisa memperkuat atau mengurangi reaksi tubuh terhadap rasa pedas. Studi dari Pennsylvania State University bahkan mengaitkan kesukaan terhadap makanan tersebut dengan karakter pencari tantangan atau sensasi berisiko.

    Budaya juga memperkuat persepsi tersebut. Di Meksiko, misalnya, mengonsumsi makanan pedas kerap diasosiasikan dengan keberanian dan maskulinitas. Hal ini menunjukkan bahwa reaksi terhadap pedas bukan hanya perkara lidah, tapi juga soal otak dan pengalaman hidup seseorang.

    Secara keseluruhan, kemampuan seseorang menikmati makanan pedas ternyata merupakan hasil kombinasi kompleks antara genetika, psikologi, lingkungan, dan budaya yang membentuk toleransi unik tiap individu.

    Cabai dan Genetik IPB University Kapsaisin Psikologi Makanan Toleransi Pedas
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Richard

    Related Posts

    Prabowo Instruksikan Pembangunan 66 RS Baru Berstandar RSKEI

    19 November 2025

    Kenali 4 Jenis Kanker Kulit, Salah Satunya Paling Mematikan

    4 Juli 2025

    Picu Mimpi Buruk, Psikologi Ungkap Hubungan Makanan dan Tidur

    3 Juli 2025

    Comments are closed.

    © 2026 Kenai.id by Dexpert, Inc.
    PT Sciedex Multi Press
    • Redaksi
    • Pedoman
    • Kode Etik
    • Kontak

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.