Alert Bay – Seperti kisah dongeng laut yang ganjil namun menggugah, dua paus pembunuh tampak “memberi hadiah” kepada manusia. Fenomena langka ini menambah babak baru dalam pemahaman ilmiah tentang perilaku orca, paus yang selama ini dikenal karena kecerdasannya luar biasa dan kehidupan sosialnya yang kompleks.
Peristiwa pertama terjadi pada tahun 2015, saat Jared Towers, direktur Bay Cetology, sedang mengamati sekelompok paus orca di perairan Alert Bay, Kanada. Dua orca bersaudara, Akela dan Quiver, berenang mendekat sambil membawa bangkai burung laut di mulut. Mereka menjatuhkannya di depan Towers, lalu mengambilnya kembali setelah beberapa saat. Perilaku serupa terulang tiga tahun kemudian, kali ini berupa anakan anjing laut.
“Rasanya seperti pengalaman istimewa,” ujar Towers kepada Seattle Times. “Mereka memperhatikan saya seolah-olah mencoba berkomunikasi.”
Fenomena ini bukan insiden tunggal. Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Comparative Psychology, Towers dan timnya mencatat 34 kasus serupa dari 2004 hingga 2024. Hadiah-hadiah itu beragam, mulai dari penyu hijau, ikan mola-mola, hingga potongan rumput laut. Sekitar setengahnya berupa hewan utuh, sisanya bagian tubuh mangsa.
Para peneliti menyebutnya “altruisme umum antarspesies”—sebuah kemungkinan bahwa orca memahami manusia sebagai makhluk sadar, dan ingin berinteraksi. Menurut Towers, “Rasa ingin tahu adalah salah satu cara orca mengurangi ketidakpastian.”
Yang menarik, orca cenderung menanti reaksi setelah memberikan “hadiah.” Jika tak ada respon, mereka mengambil kembali mangsanya. Hal ini mencerminkan pola berbagi makanan di antara orca dalam satu pod, yang biasa digunakan untuk mempererat ikatan sosial.
“Orca sering berbagi makanan satu sama lain. Bahwa mereka juga melakukannya pada manusia menunjukkan keinginan membangun relasi,” ujar Towers lagi.
Carl Safina, ekolog dari Stony Brook University, menambahkan bahwa temuan ini tidak mengejutkan. “Orca tampaknya memahami dunia lebih baik dari yang kita kira. Tapi manusia sering enggan mengakui bahwa makhluk lain juga punya pikiran,” ungkapnya kepada Seattle Times.
Meski terdengar mengharukan, para peneliti mengingatkan agar tidak membalas “hadiah” itu. Respons balik bisa membingungkan orca atau bahkan berbahaya. Mereka menyarankan interaksi tetap dilakukan secara pasif dan penuh kehati-hatian.
Fenomena ini memberi harapan dan tantangan: bahwa makhluk laut cerdas seperti orca mungkin ingin memahami kita, namun tanggung jawab etis dan ilmiah menjadi kunci dalam menjalin relasi yang aman dan berkelanjutan.

