Tasikmalaya – “Nilai yang kita jaga tidak boleh ikut padam.” Pesan itu mengemuka dalam malam Renungan dan Ulang Janji menjelang Hari Pramuka ke-65 di Pesantren Pramuka Khalifa, Tasikmalaya, Kamis (13/08/2026). Di tengah perubahan cara generasi muda berkegiatan, prosesi tersebut tidak berhenti pada pengucapan kembali Tri Satya, tetapi diarahkan menjadi ruang muhasabah untuk menakar seberapa dekat janji seorang Pramuka dengan tindakan yang telah dikerjakannya.

Kegiatan menjelang peringatan Hari Pramuka pada 14 Agustus 2026 itu diikuti anggota Gerakan Pramuka Gugus Depan Pesantren Pramuka Khalifa. Dalam suasana malam yang khidmat, peserta berkumpul, menyanyikan lagu-lagu Pramuka, melakukan perenungan perjalanan organisasi, mengevaluasi kekurangan, hingga mengucapkan kembali Tri Satya. Prosesi Ulang Janji menjadi bagian penting untuk mengingatkan anggota bahwa Satya dan Darma bukan sekadar teks yang dibaca saat upacara, tetapi pedoman yang perlu dibuktikan melalui perilaku sehari-hari.
Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan Pesantren Pramuka Khalifa, Lina Marlina menegaskan, pengucapan Tri Satya dari tahun ke tahun memang menggunakan susunan kalimat yang sama. Namun, maknanya seharusnya terus tumbuh seiring bertambahnya usia dan pengalaman setiap anggota.
“Malam ini kami kembali mengucapkan Tri Satya. Kalimatnya masih sama, tetapi rasanya tidak pernah benar-benar sama. Sebab setiap tahun usia bertambah, pengalaman bertambah, dan seharusnya bertambah pula keberanian untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana janji itu benar-benar kami jalankan?” ujarnya.
Menurutnya, malam Ulang Janji juga menjadi kesempatan bagi anggota untuk membicarakan perjalanan yang telah ditempuh dengan terbuka. Lagu-lagu yang dinyanyikan tidak hanya membawa ingatan pada pengalaman kepramukaan, tetapi mengantar peserta pada proses evaluasi mengenai hal-hal yang masih harus diperbaiki setelah peringatan Hari Pramuka.
Ada pula perubahan sederhana dalam pelaksanaan renungan tahun ini yang menggambarkan bagaimana tradisi kepramukaan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Jika pada masa sebelumnya cahaya api kerap menjadi bagian kuat dari suasana perenungan, kali ini peserta memanfaatkan lampu telepon genggam. Cahaya dari perangkat tersebut diletakkan pada tumbler sehingga memunculkan warna-warni di tengah lingkaran kebersamaan.
“Ada satu pemandangan sederhana yang justru membekas. Malam ini kami tidak menyalakan api seperti dahulu. Kami menyalakan lampu telepon genggam, meletakkannya pada tumbler, lalu cahaya warna-warni muncul di tengah kebersamaan” tuturnya.
Ia memandang kemampuan beradaptasi itu sebagai salah satu pesan penting pada Hari Pramuka ke-65. Gerakan Pramuka, menurutnya, tidak harus bertahan dengan hanya mengulang bentuk-bentuk masa lalu, tetapi mesti mampu hadir dalam kehidupan generasi sekarang tanpa kehilangan arah dasarnya.
Renungan tersebut juga menempatkan peringatan hari lahir Gerakan Pramuka bukan sekadar sebagai seremoni tahunan. Bertambahnya usia organisasi diharapkan sejalan dengan semakin kuatnya kesadaran anggota dalam menjalankan janji yang telah diikrarkan, baik dalam kehidupan pribadi, lingkungan pesantren, masyarakat, maupun pengabdian kepada bangsa dan negara.
Ia menutup pesannya dengan harapan agar Ulang Janji meninggalkan perubahan yang dapat dirasakan setelah peserta kembali menjalani aktivitas keseharian. “Semoga semakin sedikit jarak antara janji yang kita ucapkan dan tindakan yang kita lakukan.”

