Jakarta – Laju ekonomi Indonesia pada awal 2026 bak irama gamelan yang kembali menemukan ketukannya. Di tengah dinamika global, pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan geliat yang semakin kuat dengan capaian positif pada tiga bulan pertama tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,61 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year). Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp3.447,7 triliun.
Pertumbuhan tersebut terjadi pada periode Januari hingga Maret 2026 dan didorong oleh sejumlah sektor unggulan. Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi, yakni mencapai 13,14 persen dibandingkan triwulan I-2025.
Sementara itu, dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan sebesar 21,81 persen secara tahunan.
“Ekonomi Indonesia triwulan I-2026 terhadap triwulan I-2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen (y-on-y),” demikian keterangan yang disampaikan Badan Pusat Statistik dalam Berita Resmi Statistik yang dirilis pada Senin (05/05/2026).
Meski mencatat pertumbuhan tahunan yang cukup kuat, secara kuartalan ekonomi Indonesia mengalami koreksi. Dibandingkan triwulan IV-2025, ekonomi nasional mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen (quarter-to-quarter).
Dari sisi produksi, sektor pertambangan dan penggalian menjadi sektor dengan penurunan terdalam, yakni sebesar 8,20 persen. Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen konsumsi pemerintah mengalami kontraksi sebesar 30,13 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Secara spasial, wilayah Pulau Jawa masih menjadi motor utama perekonomian nasional. Kelompok provinsi di pulau tersebut memberikan kontribusi sebesar 57,24 persen terhadap struktur ekonomi Indonesia dan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,79 persen secara tahunan.
Dominasi Pulau Jawa menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih terkonsentrasi di kawasan tersebut. Namun, berbagai sektor jasa, perdagangan, serta konsumsi masyarakat di sejumlah daerah lain juga turut menopang pertumbuhan nasional sepanjang awal tahun 2026.
Data BPS tersebut memberikan gambaran bahwa perekonomian Indonesia tetap memiliki daya tahan di tengah tantangan yang ada. Seperti pepatah nusantara yang menyebut “sedikit demi sedikit menjadi bukit”, pertumbuhan yang konsisten menjadi modal penting bagi keberlanjutan pembangunan ekonomi nasional pada tahun 2026.

